Gorengan salah satu junk food

Junk Food

Posted on

Di dalam kehidupan sehari-hari, hampir seluruh masyarakat pernah mengonsumsi junk food.

Junk food maupun fast food ini mudah ditemukan di sekitar kita. Bahkan, rasanya yang enak dan gurih, membuat junk food menjadi salah satu santapan idola bagi beberapa kalangan.

Akan tetapi, seperti namanya, walau rasa tidak bisa berbohong, tetapi fast food menjadi asupan makanan yang sangat rendah nutrisi, bahkan hampir tidak ada nutrisi.

Beberapa gejala penyebab junk food alias fast food ini salah satunya ialah menambah berat badan seseorang, hingga akhirnya malah memicu penyakit obesitas yang sulit untuk ditolerir dan diobati.

Jangka panjangnya, apabila tidak di-support dengan gaya hidup yang baik, potensi kesehatan yang semakin memburuk di masa depan menjadi salah satu hal yang nyata.

Pengertian Junk Food atau Fast Food

Gorengan salah satu junk food

Sebenarnya, junk food itu apa?

Jika melihat dari kasaran bahasa Inggrisnya, bisa disebut sebagai “makanan sampah”. Akan tetapi, itu tata bahasa yang kurang halus.

Junk food adalah asupan makanan yang tidak sehat dengan di dalamnya terdapat baegitu banyak kalori dari gula maupun lemak, dengan sedikit serat, protein, vitamin, mineral, dan berbagai macam kandungan nutrisi lain.

Secara singkatnya, junk food dijadikan sebagai istilah untuk mendeskripsikan makanan maupun minuman yang rendah akan kandungan nutrisi.

Contoh Makanan Junk Food

Mie instan

Ada berbagai macam makanan junk food atau fast food yang dijual secara bebas di Indonesia.

Tidak hanya melalui kafe atau restoran, bahkan makanan junk food kini berkembang pesat hingga ke minimarket, warung, hingga angkringan.

Beberapa contoh makanan junk food di Indonesia yang tentunya kalian tidak akan asing seperti:

  • Asinan
  • Burger
  • Es krim
  • Fried chicken
  • Frozen food
  • Gorengan
  • Jeroan
  • Kentang goreng
  • Keripik
  • Makanan yang dibakar
  • Mie instan
  • Sereal

Bisa diprediksi, hampir semua masyarakat Indonesia pasti pernah mengonsumsi makanan di atas.

Sementara itu, beberapa makanan yang jarang dikonsumsi biasanya seperti frozen food, jeroan, dan juga sereal.

Harganya yang murah mulai dari Rp 1.000,- saja dari 1 pcs gorengan menjadi pemicu mengapa masyarakat Indonesia lebih memilih mengonsumsi makanan fast food ketimbang healthy food.

Yang terpenting, masyarakat Indonesia bisa kenyang dan puas, tanpa memikirkan kesehatan dan risiko yang bisa jadi timbul di masa depan. Apalagi jika memiliki gaya hidup yang buruk.

Tahukah kamu? Menurut survei yang dilakukan Qraved terhadap sebanyak 13.890 koresponden diungkap 52% masyarakat Jakarta menjadikan junk food sebagai alternatif sarapan.

  • 62% koresponden mengonsumsinya karena mudah dan praktis didapat
  • 19% koresponsen mengonsumsinya karena rasa yang enak
  • 18% koresponden mengonsumsinya karena kesibukan dalam bekerja atau kesehariannya

Yang lebih menakutkannya lagi di Indonesia, 45% orang mengonsumsi junk food hingga 3 kali dalam seminggu!

Mengapa Makanan Junk Food Terasa Begitu Enak dan Nikmat?

Es krim

Setidaknya ada beberapa alasan yang dikutip dari Recipes mengenai mengapa junk food begitu enak untuk disantap.

1. Aroma yang Khas

Banyak orang yang meremehkan bau terhadap rasa masakan.

Padahal, menurut dari Prof. Tom Finger dari University of Colorado Denver menyebut bahwa rasa merupakan kombinasi yang dihasilkan dari rasa dan bau.

Aroma yang memikat dari fast food mampu meningkatkan indra perasa saat orang memakannya, sehingga saat mengonsumsi membuat seseorang menjadi lebih cepat puas dan kenyang.

2. Mouthfeel

Mouthfeel merupakan istilah yang diciptakan oleh para ilmuwan dalam menggambarkan bagaimana tekstur dan kombinasi rasa makanan berpengaruh terhadap rasa.

Perusahaan yang membuat junk food tentu berusaha untuk berlomba-lomba dalam menciptakan tingkat muothfeel yang sempurna, sehingga bisa mengubah persepsi dan menggugah selera konsumen.

3. Bumbu-bumbu yang Terkandung di Dalamnya

Makanan cepat saji atau fast food mengandung zat aditif yang tinggi akan gula dan lemak. Aditif inilah yang menjadi alasan utama mengapa junk food memiliki rasa yang begitu lezat.

Kandungan gula yang tinggi, sodium, dan lemak menghasilkan cita rasa khas yang begitu tinggi.

Selain itu, dibuktikan juga secara ilmiah jika seseorang mengonsumsi makanan yang tinggi akan lemak dan gula, maka keinginan untuk makan tersebut juga semakin meningkat.

4. Berperan dalam Ingatan “Memories

Aroma makanan dan cita rasa yang sedap memainkan peranan yang besar untuk kembali mengonsumsi makanan fast food.

Pengalaman atau review positif yang didapat seperti enak, gurih, dan mengenyangkan membuat junk food kembali dikonsumsi lagi di lain waktu.

5. Penampilan yang Cantik

Alasan yang terakhir mengapa junk food terus-menerus dikonsumsi lagi dan lagi ialah penampilan yang memikat.

Penampilan, rasa, cita rasa, ingatan “memories“, dan aroma yang memikat ialah menjadi alasan sangar mengapa fast food sangat enak untuk dinikmati terus-menerus.

Mengapa Junk Food Tidak Baik bagi Kesehatan?

Obesitas

Konsumsi junk food secara sering atau malah bahkan rutin mampu menyebabkan peningkatan risiko obesitas dan penyakit kronis.

Penyakit kronis tersebut seperti penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, hati, dan memicu beberapa jenis kanker.

Konsumsi fast food di Indonesia berdasar hasil survei nasional pada tahun 1996 / 1997 di ibukota seluruh provinsi di Indonesia pada kelompok usia 18 tahun ke atas menyebutkan bahwa:

  • 8,1% laki-laki mengalami overweight
  • 10,5% perempuan mengalami overweight

Hasil ini relevan atau sesuai dengan semakin maraknya gerai fast food yang ada di Indonesia, sehingga menyebabkan tingkat prevalensi obesitas tiap tahunnya juga mengalami peningkatan.

Menurut dari Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S., ahli kesehatan dan dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) membagi junk food dalam 3 kategori:

  • Pertama, yang mempunyai pengaruh buruk karena terkandung garam, lemak, dan gula yang kadarnya tinggi.
  • Kedua, yang tidak memiliki dampak baik maupun buruk.
  • Ketiga, kategori yang baik untuk dikonsumsi sebagai sumber energi dan kesehatan tubuh.

Menurutnya, jenis makanan cepat saji yang menyehatkan bagi tubuh seperti pecel atau gado-gado yang full akan sayuran maupun buah-buahan.

Bahaya Junk Food

Penyakit demensia

1. Mempengaruhi Masalah Memori dan Proses Belajar

Berdasarkan dari sebuah penelitian yang diterbitkan pada American Journal of Clinical Nutrition pada tahun 2011 menyimpulkan bahwa orang sehat yang mengonsumsi junk food selama 5 hari memiliki kinerja yang buruk.

Kinerja yang buruk dalam apa? Pada kemampuan kognitif yang berpengaruh terhadap perhatian, kecepatan, dan suasana hati.

Bahkan, yang jauh lebih berbahayanya lagi, konsumsi rutin junk food selama 5 hari berturut-rutur bisa menurunkan daya ingat.

2. Meningkatkan Risiko Demensia

Demensia merupakan gejala yang terjadi saat otak dipengaruhi oleh penyakit atau kondisi tertentu.

Istilah ini menggambarkan rangkaian gejala yang mencakup kehilangan memori, perubahan pada suasana hati, masalah pada komunikasi, dan penalaran.

Bahkan di dalam penelitian yang dilakukan pada Brown University menunjukkan bahwa terlalu banyak konsumsi makanan berlemak dan permen secara substansial mampu meningkatkan kadar insulin di dalam tubuh.

Apabila kadar insulin berlebih, maka bisa memicu otak menjadi berhenti dalam merespon hormon insulin tersebut. Akibatnya, otak menjadi terbatas dalam kemampuannya berpikir, mengingat, bahkan meningkatkan risiko demensia.

Salah satu dari risiko ini ialah memicu penyakit alzheimer. Seberapa buruk penyakit alzheimer?

  • Matinya sel-sel pada otak
  • Penyakit progresif, artinya bertahap dari waktu ke waktu mampu menyebabkan lebih banyak bagian otak menjadi rusak

3. Mengurangi Kemampuan Tubuh dalam Mengontrol Nafsu Makan

Terlalu berlebih dalam konsumsi lemak trans bagi tubuh dapat mengirim berbagai sinyal beragam ke otak yang membuat sulit dalam memproses apa yang telah dimakan dan seberapa lapar kamu.

Di dalam skenario yang terburuk, kebiasaan makan berlebih ini mirip seperti kecanduan akan narkoba. Bahkan, sampai-sampai bisa mengandalkan junk food guna mengaktifkan “pusat kesenangan otak” yang jauh lebih besar dibanding hanya narkoba.

4. Mudah Depresi dan Terbebani dalam Hidup

Tidak perlu diragukan lagi, sudah banyak penelitian yang menunjukkan jika makanan yang tinggi gula dan lemak bisa mengubah aktivitas kimia otak, sehingga menjadi ketergantungan terhadap makanan tersebut.

Di dalam suatu penelitian pada University of Montreal pada tikus menyebabkan tikus tersebut mengalami gejala penarikan (withdrawal symptoms) setelah konsumsi junk food dihentikan.

Apa maksudnya?

Withdrawal symptoms tersebut pada manusia akhirnya menyebabkan ketidakmampuan dalam:

  • Menangani stres yang diderita
  • Merasa lebih tertekan
  • Hingga akhirnya ingin menghibur diri dengan kembali mengonsumsi junk food tersebut

🤔 Baca juga: STMJ, minuman penambah stamina yang jadi boomerang jika salah konsumsi

Leave a Reply

Your email address will not be published.